Jumat, 29 Maret 2013

Resep Unguentum (salep)



LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA
RESEP III
UNGUENTUM








OLEH

NAMA             : ASTRID INDALIFIANY
NIM                 : F1F110025
KELAS            : A
KELOMPOK : 3




LABORATORIUM FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011



Resep Nomor         : III
Bentuk Sediaan     : Unguentum

A. Landasan Teori

            Salep (unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar. Preparat farmasi setengah padat seperti salep, sering memerlukan penambahan pengawet kimia sebagai antimikroba, pada formulasi untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang terkontaminasi. Pengawet-pengawet ini termasuk hidroksibenzoat, fenol-fenol, asam benzoat, asam sorbat, garam amonium kuartener, dan campuran-campuran lain. Preparat setengah padat menggunakan dasar salep yang mengandung atau menahan air, yang membantu pertumbuhan mikroba supaya lebih luas daripada yang mengandung sedikit uap air, dan oleh karena itu merupakan masalah yang lebih besar dari pengawetan (Chaerunnisa, 2009).
            Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispend homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian Tidak boleh berbau tengik. Kadar kecuali dinyatakan lain dan untuk salap yang mengandung obat keras atau obat narkotik , kadar bahan obat adalah 10 %. Kecuali dinyatakan sebagai bahan dasar digunakan Vaselin putih . Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan dasar berikut: dasar salep senyawa hidrokarbon Vasellin putih, vaselin kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan Malam kuning atau senyawa hidrokarbon lain yang cocok; dasar salep serap lemak bulu domba dengan campuran 8 bagian kolesterol 3 bagian stearik alcohol 8 bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian Malam kuning dan 70 bagian Minyak Wijen; dasar salap yang dapat dicuci dengan air. Emulsi minyak dan air; dasar salap yang dapat larut dalam air Polietilenglikola atau campurannya.
Homogenitas jika dioleskan pada sekeping kaa atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen
(Anif, 2000).
 Pada penyakit kulit, obat yang digunakan berupa salep, krim atau lotion (kocokan). Kulit yang utuh dan sehat  sukar sekali ditembus obat, tetapi resorpsi berlangsung lebih mudah bila ada kerusakan. Efek sistemis yang menyusul kadang-kadang berbahaya, seperti dengan kortikosteroida (kortison, betameson, dan lain-lain), terutama bila digunakan dengan cara occlusi, artinya ditutup dengan plastik. Reseorpsi dapat diperbaiki pula dengan tambahan zat-zat keratolis dengan daya melarutkan lapisan tanduk kulit, misalnya asam salisilat, urea dan resorsin 3% (Ansel, 1989).
Salep biasanya dikemas baik dalam botol atau dalam tube. Botol dapat dibuat dari gelas tidak berwarna, warna hijau, amber atau biru atau buram dan porselen putih. Botol plastik juga dapat digunakan. Wadah dari gelas buram dan berwarna berguna untuk salep yang mengandung obat yang peka terhadap cahaya. Tube dibuat dari kaleng atau plastik, beberapa diantaranya diberi tambahan kemasan dengan alat bantu khusus bila salep akan digunakan untuk dipakai melalui rektum, mata, vagina, telinga atau hidung (Anif, 1993).

B. Resep
 1. Resep pada Jurnal
R/ Ungt. 2-4         20
     s.u.e
          Pro:Hartati


2. Resep yang Lengkap

Dr. Budiyono
SIP No. 455/K/88
       Jl. Haeba Dalam No.19
       No. Telp.(0401)3192708
       Kendari
                                                               28-02-2011
         
R/ Ungt. 2-4         20
s.u.e
       
                Pro:Hartati

Keterangan :
No
Singkatan
Bahasa Latin
Arti
1.
R/
Recipe
Ambillah
2.
Ungt.
Unguentum
Salep
3.
s.u.e
Signa usus externum
Tandai untuk pemakaian luar
  


Salep 2-4
Salep asam salisilat belerang
Komposisi :  Tiap 10 mg mengandung
                     Acidum salicylum    200 mg
                     Sulfur                       400 mg
                     Vaselin album hingga 10g

Uraian Bahan Resep

a. Acid salicylic
Nama resmi            Acidum Salicylicum
Sinonim                  Asam Salisilat
Rumus Bangun       :   
Rumus Molekul     :    C7H6O3 
Berat Molekul        :  138,12 
Pemerian                : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih, hampir tidak berbau, rasa agak manis dan tajam 
Kelarutan               : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%), mudah larut dalam kloroform dan dalam eter, larut dalam larutan amonium asetat, dinatrium hidrogenfosfat, kalium sitrat, dan natrium sitrat 
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik 
Khasiat                   : Keratolitikum, anti fungi

b. Sulfur
          Nama resmi            : Sulfur Praecipitatum
Sinonim                  : Belerang endap
Rumus Molekul     : S
Berat Molekul        :       32,06
Pemerian                 : Tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan                : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbondisulfida P; sukar larut dalam minyak zaitun P; sangat sukar larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat                   :       Antiskabies

c. Vaselin album
Nama resmi            : Vaselinum album
Sinonim                  : Vaselin putih
Rumus Molekul     : -
Berat Molekul        -
Pemerian          : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk
Kelarutan           : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat                  : Zat tambahan



Perhitungan dan Penimbangan
PB: a. Acidum Salicylum = 200 mg x 2 = 400 mg = 0,4 g
       b. Sulfur                      = 400 mg x 2 = 800 mg = 0,8 g
       c. Vaselin album         = 10 g x 2 = 20 g
                                           = 20 g – (0,4 g + 0,8 g)
                                           = 20 g – 1,2 g
                                           = 18,8 g
Cara Kerja
·         Ditimbang asam salisilat, kemudian dimasukkan ke dalam mortar dan diferus halus
·         Ditimbang sulfur, masukkan mortar sedikit demi sedikit sambil diaduk
·         Tambahkan vaselin album yang sudah ditimbang sedikit demi sedikit, kira-kira sama banyak (ana) dengan yang sebelumnya, digerus dan diaduk sampai homogeny 
       Masukkan ke dalam pot salep dan beri etiket


 Khasiat Obat
·         Asam salisilat sebagai keratolotikum, anti fungi
·         Sulfur sebagai antiskabies

C. Pembahasan

Salep merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispend homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian Tidak boleh berbau tengik.
Kadar kecuali dinyatakan lain dan untuk salap yang mengandung obat keras atau obat narkotik , kadar bahan obat adalah 10 %. Dasar salap, kecuali dinyatakan sebagai bahan dasar digunakan Vaselin putih . Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan dasar berikut: (a) dasar salep senyawa hidrokarbon Vasellin putih, vaselin kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan Malam kuning atau senyawa hidrokarbon lain yang cocok; (b) dasar salep serap lemak bulu domba : campuran 8 bagian kolesterol
3 bagian stearik alcohol 8 bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih,
campuran 30 bagian Malam kuning dan 70 bagian Minyak Wijen; (c) dasar salep yang dapat dicuci dengan air. Emulsi minyak dan air; (d) dasar salep yang dapat larut dalam air Polietilenglikola atau campurannya. Homogenitas jika dioleskan pada sekeping kaa atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
Pada pembuatan salep kali ini, zat utamanya yaitu Asam Salisilat perlu dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan etanol. Hal ini dilakukan karena Asam Salisilat memiliki bentuk hablur atau berbentuk seperti jarum-jarum, sehingga perlu dilarutkan terlebih dahulu untuk memperkecil partikelnya.
Pada saat pembuatan salep, bahan-bahan yang telah dilebur di atas penangas air harus didinginkan dahulu sampai mencapai suhu kira-kira 50oC. Hal ini perlu agar suhu basis salep dengan zat aktif yang akan dicampurkan tidak terlalu jauh. Perbedaan suhu yang terlalu besar (terlalu panas) dikhawatirkan dapat merusak zat aktif dari salep yang akan dibuat. Selain itu, proses pendinginan juga dapat membuat massa basis salep yang tadinya encer menjadi lebih kental, sehingga proses pencampuran semua bahan nantinya tidak memakan waktu terlalu lama.
Pembuatan salep tidak memerlukan penambahan bahan pengawet. Hal ini dikarenakan bahan-bahan yang ada di dalam salep tidak mengandung air. Tetapi untuk berjaga-jaga, dapat pula ditambahkan bahan pengawet yang cocok.
Resep standar salep 2-4, yakni: (a) sulfur praecipetatum / belerang endap mempunyai sifat germisida, fungisida, parasitisida dan juga mempunyai efek keratolitika. Hal yang perlu diperhatikan: hindarkan kontak dengan mata, mulut dan mukosa; (b) asam salisilat. Mempunyai sifat keratolitik, yang dapat melunakkan kulit sehingga dapat melunakkan kulit sehingga dapat membantu penyerap obat lain dan fungsida yang lemah. Efek yang tidak diinginkan; iritasi kulit; (c) kelarutan As. Salisilat ; larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol; (d) kelarutan Sulfur Praecipetatum praktis tidak larut dalam air,sanat sukar larut dalam etanol.
Agar tujuan pengobatan dapat tercapai pembuatan salep harus mengikuti peraturan seperti yang tercantum pada FI ed. II ada 4 peraturan dasar pembuatan salep, yaitu : (1) zat-zat yang dapat larut dalam lemak, dilarutkan dulu kedalamnya. Bila perlu dengan pemanasan; (2) zat- zat yang larut dalam air, jika tidak dinyatakan lain , dilarutkan dalam air asalkan jumlah air dapat diserap oleh dasar salep.jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis salep; (3) zat – zat yang sukar larut atau sebagian larut  dalam air atau lemak,  bila tidak dinyatakan lain dilarutkan dengan etanol lalu diserbukkan, kemudian di ayak dengan pengayak no.44 / B. 40; (4) salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin. Pemeriannya : tidak boleh berbau tengik. Kadar : bila tidak dinyatakan lain salep yang mengandung obat keras atau narkotik, kadar bahan obat adalah 10%. Homogenitas  :  Jika di oleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang  cocok harus menunjukkan susunan yang homogen .
            Kemasan pada sediaan salep ada bermacam-macam bentuk. Salah satunya adalah pot salep, seperti yang dipakai pada praktikum ini. Etiket yang digunakan pada sediaan ini adalah etiket biru, sebab sediaan salep (unguents) ditujukan untuk pemakaian luar pada tubuh.

D. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa salep merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Resep III berkhasiat sebagai keratolotikum dan antiskabies.










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Keesehatan Republik Indonesia
Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat ; Teori dan Praktik. UGM Press. Yogyakarta

Anief, Moh. 1993. Farmasetika. UGM Press. Yogyakarta

Ansel, Howard. 1989. Pengantar bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke empat. Universitas Indonesia: Jakarta.

Chaerunnisa, Anis Yohana. 2009. Farmasetika Dasar. Widya Padjajaran: Bandung.
 
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar