Jumat, 29 Maret 2013

Laporan Penetapan Kadar Senyawa yang tidak Berwarna (punya kromofor) dengan Spektrofotometri UV



LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS II
PERCOBAAN III
PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG TIDAK BERWARNA
(TETAPI MEMILIKI KROMOFOR) SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV






OLEH



NAMA                         : ASTRID INDALIFIANY
STAMBUK                  : F1F110025
KELOMPOK               : 2
NAMA ASISTEN        : MIFTA NUR RAHMAT






JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012
Penetapan Kadar Senyawa yang  Tidak Berwarna
(Tetapi Memiliki  Kromofor) Secara Spektrofotometri UV

A. Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara penetapan kadar senyawa yang tidak berwarna (tetapi memiliki kromofor) secara spektrofotometri UV.

B. Landasan Teori
Teknik analisis adalah peristiwa ilmiah dasar yang dibuktikan untuk mendapatkan informasi komposisi suatu unsur. Metode analisis merupakan aplikasi spesifik teknik analisis untuk memecahkan masalah analisis. Prosedur analisis adalah instruksi tertulis untuk menyelesaikan suatu metode, sedangkan deskripsi spesifik suatu metode dikenal dengan protokol analisis. Suatu metode analisis terdiri atas serangkaian langkah yang harus diikuti untuk tujuan analisis kualitatif, kuantitatif, dan informasi struktur dengan menggunakan teknik tertentu. Analisis kuantitatif adalah analisis untuk menentukan jumlah kadar absolute atau relatif dari suatu elemen atau spesies yang ada dalam sampel (Kartasasmita, 2009).
Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa.  Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Pada instrument spektrofotometri, sinar yang digunakan merupakan satu berkas yang panjangnya tidak berbeda banyak antara satu dengan yang lainnya, sedangkan dalam kalorimetri perbedaan panjang gelombang dapat lebih besar. Dalam hubungan ini dapat disebut juga spektrofotometri adsorpsi atomik (Harjadi, 1990).
Metoda spektrofotometri uv-vis adalah salah satu metoda analisis kimia untuk menentukan unsur logam, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum (190 nm s/d 900 nm), sedangkan analisis secara kuantitatif berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini sangat tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, dkk., 2009).
Metode spektrofotometri merupakan salah satu metode yang cukup sensitive untuk mendeteksi analit fenol dalam konsentrasi yang rendah. Akan tetapi, metode spektrofotometri ini memiliki kelemahan pada pendeteksian analit jika analit berada pada sampel air yang mengandung banyak ion pengganggu. Interferensi ion dan senyawa pengganggu dalam sampel dapat menyebabkan kesalahan deteksi, sehingga serapan radiasi dapat berasal dari pengganggu. Hal ini tentu akan menyebabkan kesalahan analisis, terutama untuk analisis kuantitatif. Terlebih lagi dalam analisis fenol, sampel terlarut dalam akuades biasanya akan memberikan respon yang kurang bagus karena adanya pengaruh matriks larutan (Fatimah, 2003).
Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Kelebihan spektrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding  (Khopkar, 2002).
Sinar yang melewati suatu larutan akan terserap oleh senyawa-senyawa dalam larutan tersebut. Intensitas sinar yang diserap tergantung pada jenis senyawa yang ada, konsentrasi dan tebal atau panjang larutan tersebut. Makin tinggi konsentrasi suatu senyawa dalam larutan, makin banyak sinar yang diserap (Anonim, 2011).
Spektrofotometri UV-Visibel merupakan metode spektrofotometri yang didasarkan pada adanya serapan sinar pada daerah ultra violet (UV) dan sinar tampak (Visibel) dari suatu senyawa. Senyawa dapat dianalisis dengan metode ini jika memiliki kemampuan menyerap pada daerah UV atau daerah tampak. Senyawa yang dapat menyerap intensitas pada daerah UV disebut dengan kromofor, sedangkan untuk melakukan analisis senyawa dalam daerah sinar tampak, senyawa harus memiliki warna (Fatimah, 2003).
Pada perawatan luka bakar, salah satu standar perawatan yang digunakan adalah dengan pemakaian silver sulfadiazine (SSD). SSD dipakai atau dioleskan di kulit untuk mencegah dan membunuh bakteri atau infeksi jamur di kulit atau area yang terkena luka bakar. Obat ini biasanya digunakan dalam perawatan luka bakar derajat dua dan derajat tiga (Handian, 2006).

C. Alat dan Bahan
1.                Alat
Adapun alat yang digunakan antara lain :
-          Spektrofotometer UV
-          Timbangan analitik
-          Labu takar
-          Pipet ukut
-          Filler
-          Gelas ukur

2.    Bahan
Adapun bahan yang digunakan antara lain :
-          Sulfadiazine (SD).
-          Etanol








E. Hasil Pengamatan
1.    Tabel  pengamatan
No.
Perlakuan
Fungsi
1.
100 mg sulfadiazine + etanol dilarutkan dalam labu takar hingga  tanda tera
Larutan induk sulfadiazine
2.
0,1 ml sulfadiazine + etanol dilarutkan didalam labu takar hingga tanda tera
Larutan sampel sulfadiazine
3.
Dipipet 0,1 ml – 0,25 ml larutan induk sulfadiazine dan dilarutkan dengan etanol pada labu takar 25 ml hingga tanda tera
Larutan baku sulfadiazine dengan berbagai konsentrasi
4.
Diukur absorbansi larutan sampel
Absorbansi 0,391
5.
Diukur absorbansi masing-masing larutan baku pada panjang gelombang 270 nm
·        0,004 mg/ml          
·        0,012 mg/ml          
·        0,006 mg/ml          
·        0,008 mg/ml          
·        0,01 mg/ml            


-     Absorbansi 0,188
-     Absorbansi 0,603
-     Absorbansi 0,299
-     Absorbansi 0,307
-     Absorbansi 0,491

2.      Perhitungan
Dik : absorbansi sampel : 0,391
Peny:
y          = 51,1 x – 0,031
0,391   = 51,1 x – 0,031
0,422   = 51,1 x
       
            = 0,0862 mg/ml

E. Pembahasan
Analisis data kuantitatif adalah pengolahan data dengan kaidah-kaidah matematik terhadap data angka atau numeric. Angka dapat merupakan representasi dari suatu kuantita maupun angka sebagai hasil konversi dari suatu kualita, yakni data kualitatif yang dikuantifikasikan. Jika yang dianalisis adalah data kuantitatif murni (tinggi, berat, luas, umur, jumlah penduduk, dan sejenisnya) maka analisis menjadi lebih mungkin dilakukan dengan tepat, karena data sudah merupakan substansinya sendiri. Namun jika data kuantitatif yang berasal dari konversi data kualitatif (sikap yang diskalakan, motivasi, opini orang, dan sejenisnya), maka analisisnya menjadi rumit karena kita harus memperhitungkan validitas konversinya. Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut.
Pada praktikum ini digunakan alat spektrofotometri. Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan  sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang.
Spektrofotometer yang dipakai dalam praktikum ini adalah spektrofotometer UV Vis, yang merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultraviolet dan sinar tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut. Dalam hal ini. Hukum Lambert-Beer dapat menyatakan hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan. Spektorofotometri ini mengukur dan membaca melalui gugus kromofor. Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsure dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorban maksimum.
Pada praktikum ini, senyawa yang digunakan memiliki kromofor. Kromofor adalah suatu gugus fungsi, tidak terhubung dengan gugus lain, yang menampakkan spektrum absorpsi karakteristik pada daerah sinar UV-sinar tampak. Bagian molekul yang mengabsorpsi dalam daerah UV dan daerah sinar tampak dinyatakan sebagai kromofor, yakni suatu gugus fungsi, tidak terhubung dengan gugus lain, yang menampakkan spektrum absorpsi karakteristik pada daerah sinar UV-sinar tampak (l>200 nm). Adapun larutan baku yang digunakan dalam percobaan ini adalah sulfadiazin. Sulfadiazin merupakan antibiotik yang bisa digunakan sebagai obat karena spektrumnya cukup luas dan juga reaksi alergi pada pasien jarang ditemukan. Sulfadiazin menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur termasuk spesies yang telah resisten terhadap sulfonamide dan juga untuk mengurang jumlah koloni mikroba dan mencegah infeksi luka bakar akan tetapi tidak dianjurkan untuk pengobatan luka yang besar dan dalam. Sulfadizin ini memiliki rumus struktur sebagai berikut.
Dari hasil pengamatan, didapatkan absorbansi dari masing-masing larutan baku pada panjang gelombang 270 nm, yakni: 0,188 pada LB SD 0,004 mg/ml; 0,603 pada LB SD 0,012 mg/ml; 0,299 pada LB SD 0,006 mg/ml; 0,302 pada LB SD 0,008 mg/ml; dan 0,491 pada LB SD 0,01 mg/ml. dari data tersebut, didapatkan persamaan garis y = 51,1x-0,031. Dengan adanya data absorbansi sampel sebesar 0,391 maka konsentrasi sulfadiazine dapat diukur, yakni sebesar 0,0862 mg/ml.
           
F. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum ini yaitu besarnya konsentrasi sulfadiazin adalah 0,0862 mg/ml.







DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Universitas Haluoleo. Kendari.

Fatimah, I., 2003, ‘Analisis Fenol Dalam Sampel Air Menggunakan Spektrofotometri Derivatif’. Logika, Vol. 9, No. 10 .ISSN: 1410-2315. Jakarta.

Fatimah, S., Haryati, I., dan Jamaluddin, A. 2009. ‘Pengaruh Uranium Terhadap Analisis Thorium Menggunakan Spektrofotomer UV-Vis’. Jurnal. ISSN: 1978-0176. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir: Yogyakarta.

Handian, I.F., Efektivitas Perawatan Menggunakan Madu Nektar Flora dibandingkan dengan Silver Sulfadiazine Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Derajat II Terinfeksi pada Marmut, Tugas Akhir, Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia: Jakarta.

Kartasasmita, E., Tuslinah, L., dan Fawaz, M. 2009. ’Penentuan Kadar Besi(II) dalam Sediaan Tablet Besi(II) Sulfat Menggunakan Metode Ortofenantrolin’. Jurnal Kesehatan BTH. Jurusan Farmasi STIKES Institut Teknologi Bandung.

Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar