Jumat, 29 Maret 2013

Laporan Penetapan Kadar Senyawa yang Memiliki Warna Asli



LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS II
PERCOBAAN I
PENETAPAN KADAR SENYAWA YANG MEMILIKI WARNA ASLI






OLEH



NAMA                         : ASTRID INDALIFIANY
STAMBUK                  : F1F110025
KELOMPOK               : 2
NAMA ASISTEN        : LD. ABDUL KADIR






JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012


Penetapan Kadar Senyawa yang memiliki Warna Asli

A. Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara penetapan kadar senyawa yang memiliki warna asli.

B. Landasan Teori
Salah satu proses yang dilakukan terkait dengan pekerjaan dan riset dalam bidang kimia adalah pengukuran analitik.Tujuan pengukuran kimia pada prinsipnya adalah untuk mencari “nilai sebenarnya” dari suatu parameter kuantitas kimiawi. Nilai sebenarnya adalah nilai yang mengkarakterisasi suatu kuantitas secara benar dan didefinisikan pada kondisi tertentu yang eksis pada saat kuantitas tersebut diukur, beberapa contoh parameter yang dapat ditentukan secara analitik adalah konsentrasi, pH, temperatur, titik didih, kecepatan reaksi, dan lain lain.
Pengukuran parameter-parameter ini sangat penting, karena data yang diperoleh nantinya tidak hanya sebagai ukuran angka-angka biasa namun juga baik kualitatif maupun kuantitatif dengan dapat menunjukkan nilai besaran yang sebenarnya. Sebagaimana biasa dalam pengamatan eksperimen secara umum, hasil yang diperoleh pasti tidak dapat terlepas dari faktor kesalahan. Nilai parameter sebenarnya yang akan ditentukan dari suatu perhitungan analitik tersebut adalah ukuran ideal. Nilai tersebut ini hanya bisa diperoleh jika semua penyebab kesalahan pengukuran dihilangkan dan jumlah populasi tidak terbatas. Faktor penyebab kesalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain adalah faktor bahan kimia, peralatan, pemakai, dan kondisi pengukuran dan lain-lain. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran analitik ini adalah dengan proses kalibrasi (Tahir, 2009).
Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau tabung foton hampa.  Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi. Pada titrasi spektrofotometri, sinar yang digunakan merupakan satu berkas yang panjangnya tidak berbeda banyak antara satu dengan yang lainnya, sedangkan dalam kalorimetri perbedaan panjang gelombang dapat lebih besar. Dalam hubungan ini dapat disebut juga spektrofotometri adsorpsi atomic (Harjadi, 1990).
Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Kelebihan spectrometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating, atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapatdiperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding  (Khopkar, 2002).
Sinar yang melewati suatu larutan akan terserap oleh senyawa-senyawa dalam larutan tersebut. Intensitas sinar yang diserap tergantung pada jenis senyawa yang ada, konsentrasi dan tebal atau panjang larutan tersebut. Makin tinggi konsentrasi suatu senyawa dalam larutan, makin banyak sinar yang diserap (Anonim, 2011).

C. Alat dan Bahan
     - Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini, adalah:
1.    Gelas ukur
2.    Beker glass
3.    Labu takar
4.    Pipet tetes
5.    Spektrofotometer
- Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini, adalah:
1.    H2SO4 0,1N
2.    Aquades
3.    Rivanol




E. Hasil Pengamatan
Data pengamatan:
Absorbansi baku    : 0,522
Absorbansi sampel : 0,163
Konsentrasi baku   :  = 0,03

sehingga, konsentrasi sampel =  x konsentrasi baku
                                               =  x 0,03
                                               = 9,36 x 10-3

E. Pembahasan
Analisis data kuantitatif adalah pengolahan data dengan kaidah-kaidah matematik terhadap data angka atau numeric. Angka dapat merupakan representasi dari suatu kuantita maupun angka sebagai hasil konversi dari suatu kualita, yakni data kualitatif yang dikuantifikasikan. Jika yang dianalisis adalah data kuantitatif murni (tinggi, berat, luas, umur, jumlah penduduk, dan sejenisnya) maka analisis menjadi lebih mungkin dilakukan dengan tepat, karena data sudah merupakan substansinya sendiri. Namun jika data kuantitatif yang berasal dari konversi data kualitatif (sikap yang diskalakan, motivasi, opini orang, dan sejenisnya), maka analisisnya menjadi rumit karena kita harus memperhitungkan validitas konversinya. Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, mengelompokannya, meringkasnya menjadi suatu yang kompak dan mudah dimengerti, serta menemukan pola umum yang timbul dari data tersebut.
Penentuan kadar senyawa pada praktikum ini menggunakan larutan induk, yakni rivanol. Rivanol adalah zat kimia (etakridinlaktat) yang mempunyai sifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan kuman). Biasanya lebih efektif pada kuman gram positif daripada gram negatif. Sifatnya tidak terlalu menimbulkan iritasi dibandingkan dengan povidon iodin. Antiseptik tersebut sering digunakan untuk membersihkan luka. Rivanol lebih bagus untuk mengompres luka atau mengompres bisul, sedangkan povidon iodin lebih bagus untuk mencegah infeksi. Serbuk rivanol berwarna kuning dengan konsentrasi sekitar 0,1% berperan dalam membunuh bakteri, namun tidak dapat digunakan untuk mengatasi kuman jenis tuberkolusis. Dengan demikian tidak efektif untuk mengatasi infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman tuberkolusis. Rivanol juga tidak dapat digunakan untuk mengatasi virus. Kegunaan antiseptik itu untuk membersihkan luka borok dan bernanah. Salah satu penggunaannya adalah untuk melakukan rendam duduk pada penderita bisul yang berada di dekat anus. Rivanol digunakan bila luka tidak terlalu kotor, dengan menggunakan kassa tutup luka tersebut. Jika luka sangat kotor, sebaiknya bersihkan dulu dengan air mengalir, dan pemilihan penggunaan antiseptik adalah dengan povidon iodin.
Penetapan kadar senyawa pada praktikum ini menggunakan teknik spektrofotometri yang merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan  sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer. Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet.
Spektrofotometer UV-VIS merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultra-violet dan sinar tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut.  Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsur dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan absorban maksimum. Zat pengabsorbsi terjadi pada molekul-molekul organik dan sedikit anion anorganik. Senyawa tersebut memiliki elektron valensi yang dapat dieksitasi ketingkat energi yang lebih tinggi sehingga senyawa ini dapat menyerap cahaya yang dipancarkan. Untuk mengeksitasi elektron pembentuk ikatan tunggal diperlukan energi yang cukup tinggi sehingga penyerapannya terbatas pada daerah UV vakum atau pada panjang gelombang lebih dari 185 nm. Sedangkan penyerapan yang terjadi pada daerah yang lebih besar dari daerah UV vakum terbatas pada sejumlah gugus fungsi ( chromofore ) yang memiliki elektron valensi dengan energi eksitasi rendah. Eksitasi elektron n ke orbital Ï€* dalam ikatan ganda terjadi pada saat sinar UV-VIS diserap oleh molekul yang dianalisis dan transisi yang terjadi adalah n → Ï€*. Pada umumnya tingkat energi elektron nonbonding terdapat pada orbital- orbital Ï€ dan δ bonding dan antibonding. Penyerapan terhadap radiasi dapat menyebabkan transisi elektron diantara tingkat elektron tertentu. Pada gambar di bawah dapat dilihat jenis transisi yang mungkin terjadi pada saat analisis, diantaranya δ → δ*, n → δ*, n → Ï€*, dan Ï€ → Ï€*.

F. Kesimpulan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa konsentrasi sampel yang dihitung sebesar 9,36 x 10-3.















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Universitas Haluoleo. Kendari.

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia: Jakarta.

Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press: Jakarta.

Tahir, Hikmal. 2009. ’Arti Penting Kalibrasi pada Proses Pengukuran Analitik: Aplikasi pada Penggunaan pH Meter dan Spektrofotometer Uv-vis’. Gajah Mada University Press.

Resep Unguentum (salep)



LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA
RESEP III
UNGUENTUM








OLEH

NAMA             : ASTRID INDALIFIANY
NIM                 : F1F110025
KELAS            : A
KELOMPOK : 3




LABORATORIUM FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011



Resep Nomor         : III
Bentuk Sediaan     : Unguentum

A. Landasan Teori

            Salep (unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar. Preparat farmasi setengah padat seperti salep, sering memerlukan penambahan pengawet kimia sebagai antimikroba, pada formulasi untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang terkontaminasi. Pengawet-pengawet ini termasuk hidroksibenzoat, fenol-fenol, asam benzoat, asam sorbat, garam amonium kuartener, dan campuran-campuran lain. Preparat setengah padat menggunakan dasar salep yang mengandung atau menahan air, yang membantu pertumbuhan mikroba supaya lebih luas daripada yang mengandung sedikit uap air, dan oleh karena itu merupakan masalah yang lebih besar dari pengawetan (Chaerunnisa, 2009).
            Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispend homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian Tidak boleh berbau tengik. Kadar kecuali dinyatakan lain dan untuk salap yang mengandung obat keras atau obat narkotik , kadar bahan obat adalah 10 %. Kecuali dinyatakan sebagai bahan dasar digunakan Vaselin putih . Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan dasar berikut: dasar salep senyawa hidrokarbon Vasellin putih, vaselin kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan Malam kuning atau senyawa hidrokarbon lain yang cocok; dasar salep serap lemak bulu domba dengan campuran 8 bagian kolesterol 3 bagian stearik alcohol 8 bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian Malam kuning dan 70 bagian Minyak Wijen; dasar salap yang dapat dicuci dengan air. Emulsi minyak dan air; dasar salap yang dapat larut dalam air Polietilenglikola atau campurannya.
Homogenitas jika dioleskan pada sekeping kaa atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen
(Anif, 2000).
 Pada penyakit kulit, obat yang digunakan berupa salep, krim atau lotion (kocokan). Kulit yang utuh dan sehat  sukar sekali ditembus obat, tetapi resorpsi berlangsung lebih mudah bila ada kerusakan. Efek sistemis yang menyusul kadang-kadang berbahaya, seperti dengan kortikosteroida (kortison, betameson, dan lain-lain), terutama bila digunakan dengan cara occlusi, artinya ditutup dengan plastik. Reseorpsi dapat diperbaiki pula dengan tambahan zat-zat keratolis dengan daya melarutkan lapisan tanduk kulit, misalnya asam salisilat, urea dan resorsin 3% (Ansel, 1989).
Salep biasanya dikemas baik dalam botol atau dalam tube. Botol dapat dibuat dari gelas tidak berwarna, warna hijau, amber atau biru atau buram dan porselen putih. Botol plastik juga dapat digunakan. Wadah dari gelas buram dan berwarna berguna untuk salep yang mengandung obat yang peka terhadap cahaya. Tube dibuat dari kaleng atau plastik, beberapa diantaranya diberi tambahan kemasan dengan alat bantu khusus bila salep akan digunakan untuk dipakai melalui rektum, mata, vagina, telinga atau hidung (Anif, 1993).

B. Resep
 1. Resep pada Jurnal
R/ Ungt. 2-4         20
     s.u.e
          Pro:Hartati


2. Resep yang Lengkap

Dr. Budiyono
SIP No. 455/K/88
       Jl. Haeba Dalam No.19
       No. Telp.(0401)3192708
       Kendari
                                                               28-02-2011
         
R/ Ungt. 2-4         20
s.u.e
       
                Pro:Hartati

Keterangan :
No
Singkatan
Bahasa Latin
Arti
1.
R/
Recipe
Ambillah
2.
Ungt.
Unguentum
Salep
3.
s.u.e
Signa usus externum
Tandai untuk pemakaian luar
  


Salep 2-4
Salep asam salisilat belerang
Komposisi :  Tiap 10 mg mengandung
                     Acidum salicylum    200 mg
                     Sulfur                       400 mg
                     Vaselin album hingga 10g

Uraian Bahan Resep

a. Acid salicylic
Nama resmi            Acidum Salicylicum
Sinonim                  Asam Salisilat
Rumus Bangun       :   
Rumus Molekul     :    C7H6O3 
Berat Molekul        :  138,12 
Pemerian                : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih, hampir tidak berbau, rasa agak manis dan tajam 
Kelarutan               : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%), mudah larut dalam kloroform dan dalam eter, larut dalam larutan amonium asetat, dinatrium hidrogenfosfat, kalium sitrat, dan natrium sitrat 
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik 
Khasiat                   : Keratolitikum, anti fungi

b. Sulfur
          Nama resmi            : Sulfur Praecipitatum
Sinonim                  : Belerang endap
Rumus Molekul     : S
Berat Molekul        :       32,06
Pemerian                 : Tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan                : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbondisulfida P; sukar larut dalam minyak zaitun P; sangat sukar larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat                   :       Antiskabies

c. Vaselin album
Nama resmi            : Vaselinum album
Sinonim                  : Vaselin putih
Rumus Molekul     : -
Berat Molekul        -
Pemerian          : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk
Kelarutan           : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah
Penyimpanan         : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat                  : Zat tambahan



Perhitungan dan Penimbangan
PB: a. Acidum Salicylum = 200 mg x 2 = 400 mg = 0,4 g
       b. Sulfur                      = 400 mg x 2 = 800 mg = 0,8 g
       c. Vaselin album         = 10 g x 2 = 20 g
                                           = 20 g – (0,4 g + 0,8 g)
                                           = 20 g – 1,2 g
                                           = 18,8 g
Cara Kerja
·         Ditimbang asam salisilat, kemudian dimasukkan ke dalam mortar dan diferus halus
·         Ditimbang sulfur, masukkan mortar sedikit demi sedikit sambil diaduk
·         Tambahkan vaselin album yang sudah ditimbang sedikit demi sedikit, kira-kira sama banyak (ana) dengan yang sebelumnya, digerus dan diaduk sampai homogeny 
       Masukkan ke dalam pot salep dan beri etiket


 Khasiat Obat
·         Asam salisilat sebagai keratolotikum, anti fungi
·         Sulfur sebagai antiskabies

C. Pembahasan

Salep merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispend homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian Tidak boleh berbau tengik.
Kadar kecuali dinyatakan lain dan untuk salap yang mengandung obat keras atau obat narkotik , kadar bahan obat adalah 10 %. Dasar salap, kecuali dinyatakan sebagai bahan dasar digunakan Vaselin putih . Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan dasar berikut: (a) dasar salep senyawa hidrokarbon Vasellin putih, vaselin kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan Malam kuning atau senyawa hidrokarbon lain yang cocok; (b) dasar salep serap lemak bulu domba : campuran 8 bagian kolesterol
3 bagian stearik alcohol 8 bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih,
campuran 30 bagian Malam kuning dan 70 bagian Minyak Wijen; (c) dasar salep yang dapat dicuci dengan air. Emulsi minyak dan air; (d) dasar salep yang dapat larut dalam air Polietilenglikola atau campurannya. Homogenitas jika dioleskan pada sekeping kaa atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
Pada pembuatan salep kali ini, zat utamanya yaitu Asam Salisilat perlu dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan etanol. Hal ini dilakukan karena Asam Salisilat memiliki bentuk hablur atau berbentuk seperti jarum-jarum, sehingga perlu dilarutkan terlebih dahulu untuk memperkecil partikelnya.
Pada saat pembuatan salep, bahan-bahan yang telah dilebur di atas penangas air harus didinginkan dahulu sampai mencapai suhu kira-kira 50oC. Hal ini perlu agar suhu basis salep dengan zat aktif yang akan dicampurkan tidak terlalu jauh. Perbedaan suhu yang terlalu besar (terlalu panas) dikhawatirkan dapat merusak zat aktif dari salep yang akan dibuat. Selain itu, proses pendinginan juga dapat membuat massa basis salep yang tadinya encer menjadi lebih kental, sehingga proses pencampuran semua bahan nantinya tidak memakan waktu terlalu lama.
Pembuatan salep tidak memerlukan penambahan bahan pengawet. Hal ini dikarenakan bahan-bahan yang ada di dalam salep tidak mengandung air. Tetapi untuk berjaga-jaga, dapat pula ditambahkan bahan pengawet yang cocok.
Resep standar salep 2-4, yakni: (a) sulfur praecipetatum / belerang endap mempunyai sifat germisida, fungisida, parasitisida dan juga mempunyai efek keratolitika. Hal yang perlu diperhatikan: hindarkan kontak dengan mata, mulut dan mukosa; (b) asam salisilat. Mempunyai sifat keratolitik, yang dapat melunakkan kulit sehingga dapat melunakkan kulit sehingga dapat membantu penyerap obat lain dan fungsida yang lemah. Efek yang tidak diinginkan; iritasi kulit; (c) kelarutan As. Salisilat ; larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol; (d) kelarutan Sulfur Praecipetatum praktis tidak larut dalam air,sanat sukar larut dalam etanol.
Agar tujuan pengobatan dapat tercapai pembuatan salep harus mengikuti peraturan seperti yang tercantum pada FI ed. II ada 4 peraturan dasar pembuatan salep, yaitu : (1) zat-zat yang dapat larut dalam lemak, dilarutkan dulu kedalamnya. Bila perlu dengan pemanasan; (2) zat- zat yang larut dalam air, jika tidak dinyatakan lain , dilarutkan dalam air asalkan jumlah air dapat diserap oleh dasar salep.jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis salep; (3) zat – zat yang sukar larut atau sebagian larut  dalam air atau lemak,  bila tidak dinyatakan lain dilarutkan dengan etanol lalu diserbukkan, kemudian di ayak dengan pengayak no.44 / B. 40; (4) salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin. Pemeriannya : tidak boleh berbau tengik. Kadar : bila tidak dinyatakan lain salep yang mengandung obat keras atau narkotik, kadar bahan obat adalah 10%. Homogenitas  :  Jika di oleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang  cocok harus menunjukkan susunan yang homogen .
            Kemasan pada sediaan salep ada bermacam-macam bentuk. Salah satunya adalah pot salep, seperti yang dipakai pada praktikum ini. Etiket yang digunakan pada sediaan ini adalah etiket biru, sebab sediaan salep (unguents) ditujukan untuk pemakaian luar pada tubuh.

D. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa salep merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Resep III berkhasiat sebagai keratolotikum dan antiskabies.










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Keesehatan Republik Indonesia
Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat ; Teori dan Praktik. UGM Press. Yogyakarta

Anief, Moh. 1993. Farmasetika. UGM Press. Yogyakarta

Ansel, Howard. 1989. Pengantar bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke empat. Universitas Indonesia: Jakarta.

Chaerunnisa, Anis Yohana. 2009. Farmasetika Dasar. Widya Padjajaran: Bandung.